Beberapa hari ini, tiba-tiba saja aku tergerak untuk menelusuri blog lama. Sejauh ini, aku punya 4 blog yang tanpa sengaja dibagi berdasarkan masa hidup. Blog pertama dibuat sekitar tahun 2008 dan diisi sampai dengan tahun 2012-an. Bisa dibilang, blog ini mewakili masa-masa awal kuliahku dan peralihan dari anak sekolah ke anak kuliahan.
Blog kedua diisi sekitar tahun 2011 sampai 2016. Sebagian besar isinya perihal masa kuliah, berikut kegalauan soal dakwah kampus dan masa-masa galau tingkat akhir. Di blog ketiga, gaya bahasaku sudah tidak se-curhat di blog pertama dan kedua. Blog ini diisi sekitar tahun 2016 sampai 2020. Saat itu, aku memutuskan untuk migrasi ke Wordpress. Di blog ketiga ini, fase hidupku sudah memasuki era bekerja sampai pernikahan awal.
Karena masalah domain, akhirnya aku kembali ke Blogspot dan membuat blog keempatku, blog ini. Kalau melihat dari post pertama, blog ini dimulai saat aku memasuki masa-masa menikah dan segala dinamikanya. Meskipun tidak sebanyak post di blog pertama dan kedua, aku cukup menyukai blog ini dan berharap ini bisa jadi blog terakhirku.
Yang Kuamati dari Blog Pertama hingga Keempat
Sejujurnya, cukup menarik membaca tulisan-tulisan lama. Seperti mengintip diary masa lalu lengkap dengan segala keluguannya. Ada beberapa tulisanku yang kalau dibaca sekarang cukup menggelikan, tapi di masanya, tulisan itu bisa dibilang bagus juga. Aku pikir tren tulisan memang berubah seiring waktu. Circa 2010, tulisan blog yang terasa seperti diary online itu menarik, seperti membaca media sosial di masa sekarang. Mentah dan penuh perasaan.
Di era 2016-an, tulisanku banyak didominasi puisi dan prosa, baik prosa dalam bentuk fiksi maupun non-fiksi. Mungkin karena pada masa itu, buku-buku seperti karya Kurniawan Gunadi cukup populer di lingkunganku. Pada masa itu, tulisan prosa dan fiksi yang seperti kenyataan banyak mengisi timeline blog dan Tumblr. Jadi, tulisanku pun banyak yang seperti itu.
Memasuki dunia kerja, aku memutuskan untuk menulis blog dengan bahasa yang lebih berpusat pada pembaca. Masih bicara tentang keseharian, tapi bukan dengan gaya bahasa curhat seperti di blog pertama dan kedua. Menurutku, gaya bahasa ini lebih tak lekang waktu dan bisa dinikmati kapan saja.
Seiring waktu, tren blog sebenarnya semakin memudar. Blog-blog yang berisi keseharian penulisnya semakin sedikit. Orang-orang lebih berpusat pada media sosial untuk berbagi keseharian. Sementara blog sering kali diisi dengan konten yang lebih serius dan worthy untuk SEO.
Karena itu, interaksi di blog juga semakin sedikit. Blog ini, misalnya, hampir tak ada komentar yang masuk ke sini. Berbeda jauh dengan blog pertama dan kedua yang interaksinya cukup oke. Tapi itu bukan masalah. Meskipun aku menulis untuk dibaca, pembaca utama blogku tentu saja adalah aku sendiri di masa depan. Jadi, aku akan tetap menulis di sini.
Tentu saja aku akan lebih senang kalau kamu meninggalkan sedikit jejak komentar, tapi tidak pun tidak apa-apa. Atau kalau mau, kamu bisa menuliskan alamat blogmu yang aktif di kolom komentar, biar aku bisa berkunjung juga ke sana.
Perasaanku Mengintip Diary Online
Ada sedikit perasaan nostalgic yang muncul. Aku bukan hanya melihat tren tulisan dan gaya bahasa yang aku gunakan saja. Lebih dari itu, aku juga mengamati caraku berpikir dari masa ke masa. Bagaimana aku semakin dewasa dari satu blog ke blog lainnya.
Ada juga perubahan sudut pandang mengenai suatu hal, liqo dan dakwah, misalnya. Aku yang dulu rasanya sangat berambisi untuk mencapai level tertentu dalam dakwah dan liqo. Keinginan ini mungkin didasari lingkungan keluarga dan kampus yang kental dengan napas dakwah. Tapi aku yang sekarang justru mulai mempertanyakan esensi dari hal tersebut. Ada beberapa hal yang terasa tidak lagi relevan dengan kondisiku sekarang. Dan ini wajar saja karena manusia memang sedinamis itu.
Selain faktor umur, mungkin juga pengobatan bipolarku mengambil peran dalam caraku memandang dunia. Di blog pertama dan kedua, aku terasa sangat bergejolak. Fase manik dan depresi sangat terasa perbedaannya. Aku yang dulu juga tidak terlalu memahami diri sendiri dengan baik, seperti merasa tomboy dan logis, padahal ternyata cukup centil dan perasa seperti perempuan pada umumnya.
Secara umum, menyenangkan membaca blog lama. Seperti mengintip diary online dengan segala dinamikanya. Kamu punya blog yang merangkap diary lama juga? Coba mampir kembali sesekali dan buka beberapa halamannya, kita nostalgia bersama.
