Sebagian besar bacaanku adalah fiksi, fantasi tepatnya, mungkin lebih tepat lagi, buku anak-anak. Aku suka buku yang ringan-ringan. Yang tidak perlu terlalu dipikirkan maknanya. Aku membaca buku untuk rekreasi. Mengalihkan sejenak pikiranku yang sejak dulu selalu berisik. Membaca buku memberi waktu bagi pikiranku untuk diam, untuk fokus pada apa yang kubaca saja. Jadi, dia tidak berceloteh dengan bebas.

Begitu awalnya.

Tapi bagi sebagian orang, membaca adalah aktivitas produktif. Kita harus mendapatkan sesuatu dari membaca. Membaca adalah cara untuk menjadi pintar, mendapatkan ilmu dan sudut pandang baru. Aku pun begitu, meski tidak selalu. 

Kadang aku membaca untuk mendapatkan inspirasi. Tapi ada banyak waktu saat cara tersebut malah membuat pikiranku semakin buntu. Jadi, aku memutuskan untuk membaca saja, mengendapkan apa yang kubaca sampai momen "eureka" muncul dengan sendirinya.

Ada banyak buku yang belum kubaca, biasanya buku nonfiksi. Bagiku, buku nonfiksi adalah kelas virtual yang harus dikunjungi saat siap. Jadi, aku menunggu momen tertentu untuk membacanya. Cara ini memang tidak sepenuhnya benar. Aku bisa saja membaca bukunya perlahan meski tidak ada momen. Satu halaman per hari, misalnya. Dan cara tersebut saat ini sedang kulakukan.

Aku bukannya tidak membaca buku nonfiksi, aku hanya belum membacanya. Belum, bukan tidak. Artinya, aku bukannya menganggap bahwa buku nonfiksi itu tidak bagus. Hanya belum bertemu waktu yang pas untuk menikmati isinya saja.

Jadi, saat seseorang menyayangkan koleksi buku yang aku punya atau deretan bacaan yang aku konsumsi, seharusnya aku tidak perlu merasa terganggu. Sayangnya, ada sedikit rasa tidak nyaman saat mendengarnya. Kenapa kebiasaan bacaanku harus disayangkan? Bukannya setiap orang punya kebiasaan baca yang berbeda, dan bukankah itu tidak apa-apa?

Ada kalanya aku memaksakan diri untuk membaca buku di luar minatku. Tidak benar-benar memaksakan sih, mungkin lebih tepat disebut mencoba. Mencoba membaca buku di luar minatku. Hanya saja, butuh waktu lebih lama untuk membaca buku seperti itu, jadi review-nya juga lebih lama dipublikasikan. Karena itu, tidak banyak orang yang tahu kalau aku membaca buku tersebut.

Sebenarnya, aku hanya ingin bilang kalau setiap orang punya preferensi bacaan yang berbeda. Tidak bijak rasanya menilai bacaan orang lain lebih baik atau lebih buruk hanya dari genre atau jenis bacaannya. Selain itu, membaca buku juga punya berbagai tujuan, bukan hanya tujuan akademik, tetapi juga rekreasional. 

Jadi, biarlah setiap orang membaca buku yang dia inginkan. Mungkin nanti, mereka juga akan menyentuh buku-buku yang belum mereka baca.