Di usia 30-an ini, akhirnya aku mencoret lagi wishlist lama yang hampir terlupakan: belajar mengendarai mobil.
Sebenarnya, aku sudah tidak terlalu ingin lagi bisa mengendarai mobil. Setelah menikah dan merasakan kalau transportasi umum Jakarta tidak terlalu buruk, aku pikir mengendarai mobil tidak terlalu urgent lagi.
Tapi tiba-tiba suami memutuskan untuk membeli mobil dan aku disuruh belajar mobil. Jadi, ya begitulah.
Pilihan belajar mobil jatuh pada tempat kursus mobil dekat rumah: Natuna Jaya. Sosial media dan maps-nya sih tidak terlalu aktif. Tapi ternyata boleh juga. Pengajarnya, Pak Adi, baik dan sabar sekali. Aku ambil paket 12 pertemuan + SIM di harga 2,2 juta Rupiah. Lumayan lah yaa...
Pengalaman Belajar Mobil 12 Jam Kursus
Aku memulai belajar mobil dengan kondisi nol, artinya aku belum bisa sama sekali. Bahkan untuk mengira-ngira gas dan rem saja masih blank sama sekali. Tapi ternyata aku tidak perlu khawatir, karena memang semua yang belajar pasti pernah menjadi pemula. Jadi, instrukturnya juga menjelaskan dasar-dasar mobil yang perlu aku tahu. Termasuk cara menyalakan lampu jauh, lampu dekat, sen kanan, sen kiri, dan lain-lain.
Yang agak bikin shock, di pertemuan pertama ini ternyata aku langsung turun ke jalan. Agak bikin deg-degan karena aku belum bisa mengira-ngira putaran setir untuk berbelok atau sekadar menjaga mobil tetap di tengah. Tapi gak apa-apa, karena Pak Adi masih membantu banyak di setiap belokan.
Selain itu, mobil latihan biasanya dilengkapi dengan pedal rem tambahan di bagian penumpang depan. Jadi, sebagai murid, kita gak perlu khawatir menabrak. Yang penting, menekan gasnya jangan terlalu dalam. Halus saja, katanya.
Pada hari keempat belajar, aku sudah mulai lebih rileks dan mulai bisa mengira-ngira putaran setir untuk berbelok. Beberapa video di media sosial juga membantu aku memahami mobil dengan lebih baik. Misalnya, menjadikan ukuran setir sebagai patokan untuk tetap berada di lajur atau spion sebagai patokan untuk berbelok.
Mulai dari hari keempat sampai ke-10, sepertinya hanya tinggal melancarkan saja dan menambah kepercayaan diri. Di pertemuan ke-10, aku meminta untuk mengambil 2 jam latihan. Jadi rutenya lebih jauh dari biasanya. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari kalau menyetir jauh dan lama ternyata melelahkan juga.
Aku mengambil pelajaran menyetir sekitar 1 jam setiap pertemuan dan 3 pertemuan dalam sepekan. Kecuali di pertemuan ke-10 yang berdurasi 2 jam. Jadi, totalnya ada 11 pertemuan dengan 12 jam pelajaran. Di pertemuan terakhir, aku belajar parkir biasa dan parkir paralel. Singkat sih, tapi sangat membantu.
Sebenarnya, belajar parkir bukan hanya di pertemuan akhir saja, tapi di setiap akhir pertemuan, aku pasti diminta Pak Adi untuk memarkirkan kembali mobilnya. Jadi, sedikit-sedikit sudah cukup terbayang bagaimana harus parkir.
Nah, itulah pengalaman belajar mobil yang aku alami di Natuna Jaya. Menurutku, harga yang ditawarkan cukup masuk akal, terjangkau, dan sudah termasuk tip. Jadi, untuk orang yang bingung dengan masalah tip, sangat membantu sekali. Meskipun tidak harus memberikan tip, instruktur ramah dan helpful. Obrolan sepanjang latihan juga mengalir dengan baik, sehingga proses belajar jadi tidak menegangkan. Sangat recommended untuk kamu yang berada di daerah Jagakarsa dan Jakarta Selatan.
