Mungkin sudah hampir 3 dekade sejak aku memulai sholat pertamaku. Pada awalnya memang tidak teratur, namun seiring waktu, sholat menjadi rutinitas yang selalu dikerjakan, meski menjalankannya tidak selalu mudah.

Lalu muncul pertanyaan: sebenarnya untuk apa kita sholat? Atau lebih tepatnya, untuk apa aku sholat? Selama ini, selain karena kebiasaan yang dilaksanakan sejak kecil, sholat bagiku adalah rutinitas wajib yang harus dilakukan setiap waktunya tiba. 

Ada banyak alasan mengapa sholat wajib dilakukan. Setiap orang mungkin punya alasan yang berbeda-beda. Bagiku, sholat adalah rutinitas harian yang rasanya berdosa jika tidak dilakukan. Itu alasan awalnya. Tidak heran kalau di waktu-waktu tertentu, sholat terasa berat. Tapi aku bilang ke diri sendiri bahwa tidak apa jika ibadah terasa berat, mungkin ada pahala karena aku tetap berusaha taat.

Titik Balik Sholatku

Pernah ada masa ketika aku merasa sangat kecewa kepada manusia, sampai akhirnya aku memutuskan untuk menjalani semuanya dengan caraku. Tidak lagi bergantung pada orang lain dan menjalani hidup dengan cara yang kupikir baik. Awalnya, aku pikir hal tersebut adalah bentuk kemandirian.

Tapi ternyata aku lupa bahwa aku juga manusia. Aku punya keterbatasan. Ada hal-hal yang tetap terasa terlalu berat untuk kuhadapi sendiri. Ada saat ketika aku tidak tahu harus melangkah ke mana, tidak tahu kepada siapa harus bercerita, dan tidak tahu bagaimana menenangkan segala kekhawatiran yang datang.

Sampai suatu ketika, aku merasa begitu berduka. Langkah ke depan terasa berat dan seakan ada tembok tinggi yang menghalangi. Aku bingung, kalut, lelah, dan hampir putus asa. Saat itu, aku menyadari bahwa mungkin selama ini aku terlalu sombong. Aku pikir aku bisa menjalani semuanya sendiri, padahal aku juga membutuhkan tempat untuk mengadu dan bergantung.

Aku membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada diriku sendiri. Aku membutuhkan Allah, Dzat Yang Maha Besar dan Maha Kuasa.

Sholat Sebagai Tempat Kembali

Maka aku mendapati sholat sebagai tempat kembali saat dunia terasa buntu dan manusia tak bisa jadi tempat bercerita. Aku butuh tempat bergantung, dan apa yang lebih layak untuk bergantung selain Tuhan yang Maha Segalanya?

Aku mendapati sholat sebagai tempat mengadu. Aku mendapati doa sebagai cara bercerita. Saat aku tidak tahu harus melangkah ke mana, aku mendapati Allah sebagai sebaik-baik tempat percaya. Bahwa apa yang tidak kumiliki mungkin adalah awal dari tujuan baru yang belum kupahami. Bahwa keajaiban bisa datang jika Dia mengizinkan. Bahwa aku bisa menyerahkan segala urusan kepada-Nya dan yakin bahwa rencana-Nya adalah yang terbaik untukku.

Aku bisa menyerahkan segala kekhawatiranku dalam sholat. Aku bisa bercerita segalanya pada Sang Pencipta. Aku bisa bergantung pada sesuatu Yang Tak Terbatas. Dan akhirnya, aku menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan: aku bisa beristirahat dalam sholat.

Sholatku belum sebaik itu memang, tapi aku berusaha memperbaikinya pelan-pelan.