Kadang, saat membaca buku yang tidak lagi hype, aku suka berpikir, "Jangan-jangan orang lain berpikir aku ketinggalan." Pemikiran ini sebenarnya berasal dari pengalaman masa kecil. Saat itu, aku memutuskan untuk tidak membaca sebuah novel yang sedang hype, Ayat-Ayat Cinta. Bukan karena apa, memang saat itu belum tertarik saja.
Beberapa waktu kemudian, ada kabar kalau buku ini akan diangkat ke layar lebar. Rasa penasaran akan buku tersebut baru mulai muncul, jadi aku memutuskan untuk mulai meminjam dan membaca buku itu. Lalu seorang teman berkelakar, "Lah, hari gini baru baca Ayat-Ayat Cinta?"
Memang sih, saat itu, hampir semua temanku di sekolah sudah membaca buku tersebut. Kecuali sebagian kecil saja, termasuk aku. Kelakar itu tanpa sengaja menyentuh ego anak remaja yang masih cenderung FOMO. Dan mungkin terbawa sedikit sampai ke usia dewasa.
Memangnya Kenapa Kalau "Telat" Membaca Buku?
Seiring waktu, aku menyadari bahwa membaca buku berbeda dengan mengikuti tren. Kita tidak harus membaca semua buku yang sedang hype. Dan tidak ada salahnya juga membaca buku melewati masa tenarnya, kan?
Setiap orang memiliki timeline hidupnya masing-masing. Setiap timeline hidup memiliki bukunya masing-masing. Atau setidaknya, begitu menurutku. Sebagai contoh, buku Rich Dad Poor Dad yang dibaca seorang pekerja bisa jadi akan lebih relevan dan memberikan manfaat serta sudut pandang yang lebih luas dibandingkan jika dibaca saat masih bersekolah.
Buku seperti Atomic Habit, The Visual MBA, atau Sapiens memang sempat hype dan terkenal di mana-mana. Bisa dibilang, banyak orang berpendapat kalau buku-buku tersebut adalah buku yang wajib dibaca setidaknya sekali seumur hidup. Tapi kapan harus dibaca, itu berbeda bagi setiap orang. Membaca buku yang tepat di waktu yang tepat, menurutku, dapat memberikan manfaat yang lebih dibandingkan membaca karena mengikuti tren saja.
Selain itu, membaca buku memiliki perbedaan dengan mengikuti tren media sosial. Isi dan nilai sebuah buku tidak akan berkurang atau hilang meski dibaca bertahun-tahun setelah masa tenarnya berakhir. Atau bahkan buku yang pernah hype akan kembali terkenal beberapa tahun kemudian. Siapa yang tahu?
Jadi, kalau kita baru membaca buku yang telah dibaca orang lain bertahun-tahun lalu, ya tidak salah juga. Mungkin waktunya baru tiba bagi kita untuk membaca buku tersebut. Lagipula, membaca buku apa pun di waktu kapan pun selalu baik, ya kan?
Aku sendiri masih memiliki buku yang menunggu untuk dibaca meski hypenya sudah lewat. Seperti Lolita, Ronggeng Dukuh Paruk, Filosofi Teras, dan masih banyak lagi. Buku apa yang ada di rakmu dan masih menunggu untuk kamu baca?
Kapan Sebaiknya Mengikuti Hype?
Di sisi lain, tidak ada salahnya pula membaca buku yang sedang hype. Beberapa buku seperti buku novel seringkali lebih seru dibaca saat awal-awal terbit. Apalagi kalau khawatir dengan spoiler yang dapat mengurangi keseruan membaca. Kalau kamu termasuk orang yang tidak masalah dengan spoiler, seperti aku, mungkin hal ini tidak akan menjadi gangguan bagimu.
Ada juga buku-buku yang ditulis sesuai dengan kebutuhan dan kondisi terkini. Buku tutorial software misalnya, membaca buku seperti ini setelah software terbaru banyak diluncurkan tentu saja akan terasa ketinggalan zaman. Atau buku-buku yang membahas isu dan fenomena terkini, tentu akan lebih relate dan mudah dipahami jika kita membacanya saat isu dan fenomena tersebut masih relevan. Meski demikian, bukan berarti buku tersebut kehilangan seluruh nilainya jika dibaca melewati masanya, hanya saja konteks membacanya mungkin sudah berbeda.
Jadi, pertanyaan sebenarnya bukanlah "Apa tidak masalah membaca buku setelah masa hype-nya lewat?" tapi "Siapakah yang menentukan seseorang ketinggalan?" Apakah masyarakat, algoritma, komunitas pembaca, atau justru ego kita sendiri?
Bisa jadi, sebenarnya tidak ada yang benar-benar peduli kapan dan apa yang kita baca. Lagipula, sebuah buku tidak memiliki kedaluwarsa, yang berubah hanya percakapan di sekitarnya yang mungkin tidak lagi seramai ketika sebuah buku sedang hype. Dan barangkali, yang memiliki masa hype bukanlah sebuah buku, tapi perhatian kita kepada sesuatu.
