Manusia itu… makhluk yang dinamis ya.

Hari ini aku melihat kembali tulisan-tulisan lamaku di wordpress. Beberapa tulisan terakhir bercerita seputar aku dan suami yang baru saja menikah. Manis, penuh cinta, dan romansa. Tahun ini, kami sudah menikah selama 6 tahun, tanpa anak. Banyak perubahan yang terjadi. Sesekali masih ada hal-hal manis yang dirasakan, masih ada juga hal-hal baik yang terjadi. Tapi romantisnya, rasanya berkurang banyak jika dibandingkan 5 tahun lalu.

Katanya, memasuki 5 tahun kedua pernikahan memang seperti itu. Fase lovey-dovey berkurang banyak. Kami tidak lagi saling melempar kalimat-kalimat mesra. Tanpa anak, hubungannya jadi makin terasa seperti teman sekamar yang tinggal bersama. Kami saling bicara apa adanya. Terkadang menyenangkan, terkadang juga menyebalkan. Mungkin wajar saja seperti itu.

Di satu sisi, aku menginginkan kehidupan pernikahan yang stabil, tetapi mulai bingung atas perubahan sikap dan perilaku yang muncul. Di sisi lain, kelelahan menjadi isu yang belakangan sering dia lontarkan. Perasaan berkorban sendiri juga rasanya mulai sering digaungkan. Sementara itu, aku mulai agak kebingungan tentang apa yang harus kulakukan.

Aku masih mencintainya, tapi mulai ragu apakah dia juga sama. Atau mungkin aku yang perlu mendefinisikan ulang makna cinta. Lebih sederhana, apa adanya, dan tenang. Di fase ini, cinta mungkin juga berarti tanggung jawab. Karena dia bertanggung jawab, mungkin artinya dia masih cinta. Sesederhana itu.