Sejak kecil, saya diajarkan untuk percaya pada keajaiban dan mimpi, tanpa diberi tahu bahwa ada harga untuk segalanya. Pertama kali saya menyadari bahwa segala sesuatu butuh pengorbanan adalah di masa kuliah, ketika seorang teman berkata kepada saya bahwa saya akan kehilangan sesuatu jika mengambil sebuah pilihan, tapi bersama dengan itu, akan ada hal baik juga yang akan datang.

Mirip ya, dengan sebuah ayat, "Bersama kesulitan pasti ada kemudahan"?

Tapi saat itu saya belum menyadarinya. Saya bingung kenapa saya harus kehilangan sesuatu saat memilih hal yang saya anggap baik? 

Beberapa tahun kemudian, saya memahaminya dengan cara yang lebih sederhana: Saya menyadari bahwa saya bukan orang baik. Dan keajaiban saja tidak cukup. Kesalahan saya banyak, jadi mungkin Tuhan tidak akan begitu saja menjawab doa saya dengan mudah. Karena itu, saya perlu berusaha.

Sedikit yang saya tidak sadari, bahwa Allah Maha Kaya, Maha Pemaaf. Dan yang saya pahami tentang berusaha hanyalah sebuah hukum alam sederhana: siapa yang berusaha, dia yang akan mendapatkannya.

Konsep keajaiban jadi hal yang rancu buat saya. Karena saya berpikir bahwa keajaiban adalah pengabulan tanpa usaha. Padahal, keajaiban adalah sesuatu di luar kuasa manusia, yang seringnya hadir justru di saat kita sudah berusaha semaksimal mungkin.

Sebagai contoh, saya mengenal seseorang yang ingin pergi berhaji bersama keluarga, tapi tidak pernah mendaftar haji, tidak menabung, dan hanya berdoa. Rasanya aneh. Dan memang aneh. Meskipun beberapa orang bisa haji dengan undangan khusus, tapi itu bukan keajaiban yang serta merta. Tetap harus ada usaha yang dilakukan di samping berdoa.

Lagipula, Allah juga berkata bahwa Dia tidak akan mengubah suatu kaum kecuali kaum tersebut mengubah apa-apa yang ada di dalamnya.

Bukankah artinya Allah sendiri yang menyuruh kita untuk berusaha di samping berdoa? Mungkin keajaiban itu ada, tapi bukan berarti kita boleh berpangku tangan menunggu keajaibannya datang, kan?