“Kayanya aku membaik dan gak butuh obat lagi deh”
Pikiran kaya gitu sering banget muncul kalo ngerasa udah stabil. Tapi tau ga sih, kalo yang kita pikirkan itu bisa jadi salah. Apalagi kalau mempertimbangkan penilaian orang di luar diri kita. Menurut kita, bisa jadi kita udah stabil. Gak butuh obat-obatan psikiatri lagi. Tapi menurut orang sekitar mungkin belum.
Mungkin saat kita berhenti mengkonsumsi obat-obatan psikiatri tanpa izin dokter, sikap kita kadang bisa terlalu meledak-ledak, tindakan yang impulsif, omongan yang mengganggu, atau menunjukkan emosi yang tak tertahankan. Siapa yang merasakan? Bukan kita, tapi orang sekitar.
Seringkali hal-hal seperti itu standarnya bukan diri sendiri. Merasa baik dengan benar-benar menjadi baik bisa jadi dua hal yang berbeda. Ditambah lagi, obat psikiatri bukan obat yang bisa dihentikan tiba-tiba seperti itu. Butuh waktu, butuh cara, butuh kesabaran, dan itu nggak sebentar.
Dalam sudut pandang lain, perasaan membaik juga menunjukkan kalau obat yang kita konsumsi sedang bekerja dengan baik. Kalau dihentikan tiba-tiba, yang ada bukan semakin membaik tapi justru bisa jadi lebih parah. Kita mungkin saja mengalami withdrawal syndrome yang tidak nyaman dan sama sekali tidak menyenangkan. Seperti mual dan muntah, pusing hebat, sampai gangguan tidur dan cemas.
Minum obat setiap hari memang membosankan, tapi dibutuhkan. Dalam banyak kondisi, dokter biasanya tetap memberikan obat dalam jangka waktu tertentu meskipun kita merasa kondisinya sudah membaik. Pemberian obat ini bertujuan untuk memastikan otak benar-benar mampu menghadapi stresor di masa depan tanpa bantuan kimiawi. Karena itu, bersabarlah sedikit, tetap konsumsi obat sebagaimana yang diresepkan dokter.
Kalau memang kita merasa sudah membaik, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi ke dokter mengenai hal ini. Mungkin dokter akan setuju dan mulai menurunkan dosis secara bertahap. Dalam proses ini, dokter juga akan melakukan pemantauan untuk melihat adanya gejala yang muncul kembali atau tidak.
Jadi, ayo lanjutkan pengobatan sampai dokter yang bilang boleh turun dosis atau berhenti obat. Semangat!
