Waktu aku jelasin soal fase manik dan depresi di bipolar, pernah ada yang bilang, "mending fase manik dong yah dari pada depresi?"
Ga guys. Ga ada yang mending. Mending normal udah 🤣
On serious note, fase manik memang tidak lebih baik dari fase depresi. Meski banyak orang mengira orang dengan bipolar menjadi lebih ceria, energik, dan produktif di fase manik, sebenarnya gak juga.
Pada pengalamanku, berada pada fase manik membuatku memiliki energi berlebih. Kondisi ini membuatku bicara lebih cepat dan cenderung tidak terkontrol. Akibatnya, beberapa kali aku tanpa sengaja mengucapkan kalimat yang menyakitkan hati.
Berkaca dari pengalaman, aku memutuskan untuk tidak bertemu teman yang tidak terlalu akrab di fase ini. Karena khawatir kalimat yang keluar saat mengobrol membuat rusak hubungan yang ada. Atau aku menggunakan tiga saringan Socrates sebelum benar-benar mengucapkan kalimat yang ingin aku ucapkan. Kalau ucapan tersebut tidak bermanfaat, tidak ada kebaikan, dan bukan kebenaran, lebih baik aku diam saja.
Selain itu, energi yang meluap saat fase manik juga membuat seseorang cenderung melakukan hal yang di luar batas kewajaran. Seperti belanja berlebihan atau melakukan sesuatu di luar value dirinya. Sekilas, apa yang dilakukan seperti berasal dari keputusan pribadi yang sadar. Sayangnya, orang dengan bipolar di fase manik tidak benar-benar menyadari dampak dari apa yang dia lakukan. Bisa dibilang, tindakan yang dilakukan cenderung bersifat impulsif dan tanpa pertimbangan yang matang.