Pergi ke kafe tentu saja bukan perkara yang sulit. Tapi saat gejala cemas datang, kegiatan sederhana pun jadi butuh usaha lebih.

Hari ini aku memberanikan diri ke kafe lagi. Meskipun sempat sedikit sakit perut dan cemas, pada akhirnya aku tetap pergi ke kafe.


Belakangan, keluar rumah jadi sesuatu yang sedikit membuat cemas. Kadang aku takut kecelakaan, kadang aku takut kehilangan, kadang hanya takut saja, tidak terlalu pasti apa yang kutakutkan. 

Namun muaranya sama: Aku takut sendirian lagi.


Saat kusampaikan hal ini pada psikiaterku, pertanyaannya sederhana. "Apa yang kamu lakukan saat pikiran-pikiran tersebut datang?"

Ada dua cara yang kuingat aku sampaikan:

1. Mengatakan kalau "Semuanya baik-baik saja" berulang kali dalam hati, dan

2. Menyadari bahwa kecemasan itu hanya ada dalam pikiranku saja.

Rupanya, yang kulakukan sudah cukup benar. Jadi kesimpulannya: Kecemasanku masih wajar dan terkontrol. Tidak perlu dibantu obat.


Intensitasku keluar rumah rasanya lebih sedikit. Kabar baiknya, kebiasaan ini membuatku sedikit lebih hemat (setidaknya menurutku begitu). Tapi sesekali, aku tetap pergi ke luar juga. 

Ke kafe misalnya, seperti saat ini. 

Supaya kecemasanku tidak semakin meluas dan supaya aku tidak kehilangan kemampuan untuk mandiri. Tidak kehilangan kemampuan untuk pergi keluar seorang diri.