Suamiku adalah orang yang paling tahu, seberapa penakutnya aku.

Dokumentasi Pribadi

Banyak orang mengira, kalau menjadi berani sama dengan tidak memiliki rasa takut. Pada awalnya, aku juga berpikir begitu.

Aku tidak bisa tampil di depan umum, karena aku demam panggung. Aku tidak bisa bekerja di perusahaan besar, karena aku takut kualifikasi-ku tidak sampai. Aku tidak bisa begini, sebab aku takut itu.

Begitu saja. Sampai akhirnya aku tidak sampai ke mana-mana.


"Kalau Suatu Hal Tidak Memberi Dampak dalam 5 Tahun Lagi, Maka Jangan Pikirkan Lebih dari 5 Menit"

Satu hari, saat akan berkencan dengan suamiku, aku dilanda panik. Diam mematung, lalu menangis tidak berhenti. 

Dia tanya kenapa, lalu aku ceritakan. Kemudian dia bilang begitu. "Kalau hal itu tidak mempengaruhi hidup kamu 5 tahun lagi, jangan pikirkan lebih dari 5 menit."

Bukan hanya itu saja, dia juga membantuku mencari solusi dari masalah tersebut. Yang ternyata, solusinya sangat sederhana. Aku hanya perlu menghadapi ketakutanku. Dan memilah antara perasaan dan logika. Sering kali jawabannya ternyata sudah di depan mata. Hanya saja, aku terlalu takut dengan persepsi dan bayangan yang belum tentu nyata. 

Tidak mudah memang. Tapi bisa dilatih perlahan-lahan. Sampai sekarang pun aku masih berlatih tentang ini.


"Kalau Diterima, ya Berarti Kamu Layak"

Ketakutan lain adalah soal pekerjaan. Saat apply kerja atau mendapatkan tawaran, sering kali aku takut kualifikasi-ku tidak sampai. Lalu mengecewakan pemberi kerja. Aku juga takut mendapatkan gaji atau bayaran lebih besar dari seharusnya.

Lalu suamiku bilang begitu, "Kalau diterima, ya berarti kamu layak" untuk pekerjaan tersebut, untuk nominal gaji tersebut. Sesederhana itu.

Setelah menerima bahwa aku mungkin saja ditolak kalau tidak sesuai kualifikasi, aku jadi bisa lebih menerima bahwa aku  lebih baik dari yang aku sangka selama ini. Yang terpenting, aku tetap mengusahakan yang terbaik yang aku bisa.

Tentu saja bayaran dan gaji besar tidak datang tanpa resiko. Mungkin waktu istirahat yang berkurang atau management waktu yang perlu diatur ulang. Tapi yang pasti, ketika bisa ya bisa. 

Di sisi lain, ada pula ketakutan diberhentikan dari pekerjaan atau proyek. Tapi ya, hidup kan memang begitu. Kalau tidak diterima, ya ditolak. Sebagai pemberi jasa, tugas kita hanya belajar dan memberikan yang terbaik. Siapa tahu, kesempatan lain akan datang lagi di waktu yang lebih tepat. 


Kalau aku 10 tahun lalu melihat aku sekarang, mungkin dia akan melihat kalau aku sangat berani. Meski begitu, ketakutan-ketakutan kecil (dan besar) tidak pernah benar-benar hilang. Hanya saja, aku lebih bisa memilahnya. Dan mengabaikannya jika perlu.