Dalam banyak kisah dongeng klasik, kita selalu tahu dua hal yang diulang. Kebaikan akan menang dan kebahagiaan selamanya. Happily ever after.

But little we know atau bahkan seringkali kita tidak cukup peduli soal kenapa seseorang bisa jadi jahat. Atau soal kebutuhan yang layak diterima oleh antagonis. Yang kita tahu dan peduli hanya soal akhir sedih buat tokoh antagonis.

Apa sudah terdengar seperti kita yang jahat ya?

Oke, kembali ke Regina Mills dalam Once Upon a Time. Saat menonton Series ini, aku merasa kalau Regina layak dapat akhir yang membahagiakan. Atau setidaknya, perlakuan baik dari tokoh lainnya.

Kenapa?
Ini dia beberapa alasan yang mungkin bisa dipertimbangkan.

1. Regina Adalah Perempuan Baik
Sebelum menjadi ratu, Regina adalah perempuan baik. Dia menolong Snow White saat kudanya mengantuk, juga memiliki orang yang dicintai dan mencintainya.

Keinginan Regina muda cukup sederhana. Dia ingin hidup tenang dan bahagia bersama kekasihnya. Tanpa sihir dan bahkan hidup sederhana pun tidak apa.

Harapan ini pupus saat ibunya membunuh kekasihnya tepat di depan matanya. Tapi Regina tetap perempuan yang baik. Dia tak sanggup membunuh ibunya sendiri, masih bersikap baik pada Snow White, dan bahkan tidak tega membunuh kuda.

Regina mempelajari sihir sekedar untuk menjadi kuat. Pada awalnya. Tapi Rumplestilskin sedikit memanipulasinya sehingga perlahan dia mulai menjadi Ratu Jahat dengan dendam kuat pada Snow White.

2. Regina Hanya Ingin Bahagia
Setelah menjatuhkan kutukan dan memindahkan negeri dongeng ke Storybrooks, Regina menjalani hidup sebagai walikota. Menjalani rutinitas yang sama, melihat kejadian yang sama. Setiap hari selama 28 tahun.

Memiliki ingatan saat semua orang hanya berjalan persis seperti yang dia inginkan ternyata tidak menyenangkan. Regina yang menginginkan teman bicara, akhirnya bertemu manusia biasa, dan sekali lagi, ditinggal pergi.

3. Regina Dimanipulasi Ibunya Sendiri
Cora yang tidak memiliki hati tidak mampu menyayangi Regina dengan tulus. Dia berusaha menjadikan Regina sebagai ratu dan menjadi kuat seperti dirinya.

Cora bahkan tidak peduli meski Regina bilang dia tidak menyukai sihir. Bagi Cora, kebahagiaan adalah memiliki kekuatan dan posisi. Karena itu, dia mau melakukan apa saja. Bahkan membuat Regina kehilangan orang yang dicintai atau dibenci semua orang.

4. Henry Selalu Memilih Emma
Sekilas, mungkin tidak ada yang salah dengan pilihan Henry. Tapi, Henry terlihat sangat obsesi dengan buku dongeng, kutukan, dan hal-hal semacam itu. Dia percaya bahwa Regina adalah Evil Queen dan menjauhkan diri dari Regina berkali-kali. Lengkap dengan kalimat, "Karena Ibu adalah Ratu Jahat". 

Padahal, sebelum kedatangan Emma, Regina tidak membunuh siapapun di Storybrooks. Dia hanya membekukan waktu. Dan sebagai Ibu angkat, Regina selalu menyayangi Henry dengan tulus.

Sejak season kedua dimulai, Regina selalu berusaha menjadi ibu yang baik bagi Henry. Dia mengorbankan diri menerima kutukan Rumplestilskin yang mencegah kepulangan Emma. Tapi begitu Emma kembali, alih-alih berterima kasih dan memeluk Regina, Henry justru memeluk Emma dan pergi bersama Emma. Meninggalkan Regina dengan tatapan kesepian dan tubuh kesakitan.

Di episode lain, Regina membakar kutukan yang dia niatan untuk membunuh Snow White atas permintaan Henry. Dan lagi-lagi, Henry malah memeluk Emma dan meninggalkan Regina dengan tatapan terluka yang sama.

5. Snow White, Prince Charming, dan Keraguan Mereka
Snow White selalu memberikan kesempatan berulang kali pada Regina, kesannya. Namun, kesempatan itu selalu dipenuhi keraguan. Terlihat jelas kalau mereka percaya Regina jahat dan selalu jahat.

Bersamaan dengan itu, mereka selalu menjauhkan Regina dari Henry. Tentu saja dengan alasan melindungi Henry. Padahal, Bagaimana pun juga, Regina adalah ibu Henry juga. Dan memisahkan seseorang dari orang teekasihnya tentu saja sama dengan memancing kemarahan.

Aku pikir, Regina dalam kisah Once Upon a Time tidak layak menjadi tokoh jahat. Jauh di dalam hatinya, Regina hanya perempuan kesepian yang ingin disayangi dengan tulus. No one ever give her love, thats why she didn't know how to love.

Bagaimana menurutmu? Apa Regina Layak mendapat Happy Ending?